Iklan

Selasa, 20 November 2018, 20:29 WIB
OpiniRagam

Administrasi Milenial

Oleh: drg Andi Fatahuddin, M.Adm.Kes

SECARA etimologi, administrasi berasal dari bahasa latin ad dan ministrare, yang berarti “membantu, melayani, atau memnuhi”. Di Indonesia kita mengenal administrasi dalam bahasa yang berbeda, yaitu administratie dari bahasa Belanda yang dikenal sejak masuknya pengaruh administrasi public klasik yang dibawa oleh pemerintah penjajahan Belanda dan mempunyai arti sempit yaitu tata usaha. Berbeda dengan penjelasan tentang administration yang berasal dari bahasa Inggris yang sering kita sebut dalam arti luasnya yaitu proses (rangkaian) kegiatan usaha kerjasama sekelompok orang yang terorganisir untuk mencapai tujuan tertentu secara efesiensi.

Dalam hal ini, kita sering mendengar para petugas layanan mengatakan kata-kata berikut, “persyaratan administrasinya belum lengkap”, atau “selesaikan terlebih dahulu administrasinya”, atau”untuk urusan ini harap anda menghubungi bagian administrasi “mohon dibayar ongkos administrasinya”, “lamaran kerja agar diserahkan dibagian administrasi”, “pegawai baru itu ditempatkan dibagian administrasi”.
Kita bisa melihat, bahwa istilah Administrasi itu bukan hal yang asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kita juga sering menjumpainya dimana saja dan kapan saja dalam aspek kehidupan kita. 

Sondang P. Siagian (2008) mendefenisikan adminsitrasi sebagai keseluruhan  proses kerja sama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan pendapat administrasi diatas, dapat disimpulkan bahwa ada 4 ide pokok yang terkandung dalam administrasi yaitu Kegiatan, Kerjasama,Tujuan dan Efesiensi.

Administrasi sebagai suatu  sistem pada hakikatnya adalah seperangkat komponen, elemen, unsur atau subsistem dengan segala atributnya, yang satu sama lain saling berkaitan, pengaruh-mempengaruhi dan saling tergantung sehingga keseluruhannnya merupakan suatu kesatuan yang terintgrasi atau totalitas, serta mempunyai peranan atau tujuan tertentu.

Nilai atau peranan suatu sistem akan dipengaruhi oleh nilai atau peranan dari sub-sistemnya. Sebaliknya nilai atau peranan suatu subsistem akan ditentukan oleh nilai atau peranan sistem yang bersangkutan. Suatu sistem bersama dengan berbagai sistem lain yang saling berinteraksi merupakan sub-sistem dari suatu sistem yang lebih besar.

Kebanyakan pemberi layanan sedikit saja punya atau bahkan tidak punya identitas dengan bidang administrasi, dengan melihat praktek administrasi yang telah berubah baik dalam praktek maupun dalam pengajarannya yang telah muncul pada tahun 1970-an, berdasarkan penemuan Frederick C. Mosher dan John C. Honey.  Model-model nilai administrasi yang digambarkan, baik yang trikotomi maupun yang dikotomi adalah generalisasi kasar yang tidak terlepas dari kelemahan yang lazim didapat karena kegagalan untuk menerangkan variasi yang luas.

Sehingga perlu penggambaran administrasi millenial yang terbaru dan  secara terperinci sebagai suatu cara untuk mengisi generalisasi itu . Dasar pemikiran untuk administrasi millenial tentunya selalu berupaya pada manajemen yang lebih baik akan tetapi perlu pendominasian pada aspek keadilan sosial pada sasaran yang mengacu pada pemikiran klasik. Karena keadilan sosial juga merupakan keharusan sebagai wujud pendekatan terhadap studi mengenai administrasi dan pendidikan yang bersifat interdisipiliner, terapan, dan memecahkan masalah, serta secara teoritis sehat.

Keadilan sosial yang dimaksud adalah mencakup kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan politik dan kesejahteraan ekonomi minoritas-minoritas. Suatu keterikatan asasi pada keadilan sosial akan menunujukkan  bahwa konsep administrasi millenial berusaha untuk mematahkan anggapan  Dwight Waldo bahwa lapangan tidak pernah secara memuaskan menampung implikasi keterlibatannya dalam politik maupun penentuan kebijakan. Karena dianggap Dikotomi administrasi dan kebijakan tidak pernah mempunyai hak empiris, karena amat jelas bahwa sebenarnyalah para administrator justru melaksanakan dan menentukan kebijakan.

Konsep Administrasi millenial berusaha menjawab pertanyaan teoritis dengan cara ini:
para administrator tidaklah netral.  Justru keharusan bagi mereka untuk terikat sepenuhnya pada manajemen yang baik maupun keadilan sosial sebagai nilai-nilai dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai.  Upaya yang mendesak terutama mengubah kebijakan-kebijakan maupun struktur-struktur yang secara sistematis merintangi keadilan sosial meskipun tidak menganjurkan perubahan dalam peranan para administrator, eksekutif, legislator, atau pengadilan dalam bentuk dasar konstitusional.

Di sisi lain, Atmosfir  birokrasi tradisional terbuka dengan ciri khas yang mempunyai kemampuan stabilitas, bahkan ultrastabilitas begitu kokoh untuk bertahan. Sehingga untuk memperoleh stuktur yang dapat diubah, Konsep administrasi millenial cenderung untuk mencoba dan menganjurkan perubahan bentuk organisasi birokratis.  Sehingga pada perjalanannya ada ruang dialogis untuk  birokrasi denga konsep Administrasi millenial.

Perangkat organisasi yang lain seperti PBBS (programming planning-budgeting system), dan analisa kebijakan dari segi manajemen sebagai strategi dasar, pada dewasa ini lebih menekankan perubahan menuju keadilan sosial. Pada akhirnya Administrasi millenial penting untuk menjembatani disiplin-disiplin ilmu dan mengambil bagian yang relevan dari disiplin itu,  serta menerapkannya pada masalah-masalah publik yang berfungsi sebagai konstriubusi serangan intelektual dalam rangka perwujudan keadilan sosial dalam layanan publik.
.

Referensi :

http://kuliahpublik.blogspot.com/2015/04/arti-penting-administrasi-publik.html
https://hana01.wordpress.com/2008/12/11/pentingnya-ilmu-administrasi
https://assaffah.blogspot.com/2016/10/administrasi-negara-sebagai-sisitem.html