Pengabdian Terakhir Sang Anak Yatim Untuk Ibu

Pengabdian Terakhir Sang Anak Yatim Untuk Ibu

WAJO - Sulfiana (16) tahun warga asal Leppangeng Kelurahan Cempalagi Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo, Sulsel,ini harus melepas kepergian sang ibunda tercinta, setelah merawatnya selama 10 tahun karena lumpuh pasca ditinggal mati oleh sang ayah.

Demi merawat Ibunda tercintanya, Sulfiana harus melepaskan seragam Sekolah dan mengais rejeki dengan menjadi seorang pemulung yang jauh dari kecukupan untuk memenuhi biaya hidup untuk dirinya bersama Ibunya yang saat itu mengalami lumpuh.

Ibu Sulfiana yang bernama Hadira telah meninggalkan Sulfiana untuk selamanya pada hari Sabtu 13 Januari 2018, diusia yang ke 73 tahun dan dimakamkan di pemakaman umum Leppangeng.

Kini Sulfiana hidup sebatangkara dan harus berjuang menghidupi dirinya sendiri setelah kedua orang tuanya itu dipanggil Sang Pencipta.

Semasa Ibunda Sulfiana hidup, Sulfiana memilih menjadi sebagai pemulung. Ia mencari plastik dan barang rongsokan lainnya untuk di jual. Pendapatan dari menjual hasil keringatnya itu hanya mampu mengumpulkan Rp. 2000 hingga Rp. 5.000 setiap hari.

Dalam kehidupan sehari-harinya, tidak jarang Sulfiana menangis ketika menatap buku pelajarannya saat masih sekolah dulu, foto berpakaian sekolah pun masih ia simpan dengan rapih. Betapa rindunya Sulfiana akan bangku sekolahnya.


Sehari sebelum kepergian Ibunya, beliau memberi isyarat dengan cara mengelus pundak anaknya, karena semenjak lumpuh ibunya pun menjadi bisu.
 
Setelah kepergian ibunya, Sulfiana baru menyadari arti dari elusan tersebut, bahwa Sulfiana harus tetap bersabar karena ibunya akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.

Hal yang paling dirindukan oleh Sulfiana, ketika makan berdua sambil menyuapi Ibunya, dan saat ini ketika hendak tidur dia tidak lagi bersama Ibunya.


Editor: Rusman